Kamis, 31 Juli 2014

Sok Pamer Kekuatan Prabowo Gagal Total karena Faktor SBY, Moeldoko dan Sutarman

Bagikan Artikel Ini :
Penulis sudah menasihati Prabowo agar jangan menuruti nasihat Timses dan orang semacam ARB dan Idrus Marham. Dengarkan hati nurani. Tak usah nekat. Kemarin (22/07/2014) saat rekapitulasi suara dalam pilres 2014 nasional berlangsung, Prabowo berpidato dari Rumah Polonia. Isi pidato itu adalah menarik diri dari proses Pilpres dan menuduh KPU curang.

Publik dibuat kaget, heran dan mengernyitkan dahi. Lagi ngapain Prabowo dengan pidatonya didampingi oleh Idrus Marham, Aburizal Bakrie, dan Suryadharma Ali dan tentu saja Fadli Zon. Isi pidato itu intinya Prabowo menarik diri dari proses Pilpres dan menuduh KPU curang. Apa latar belakang sehingga reaksi publik dan negara terhadap langkah move dan testing the water Prabowo yang gagal itu adem-adem ayem saja? Tentu pengaruh SBY, terutama.


Ketua KPU Husni Kamil Manik dengan cerdik beralasan sholat Ashar, selepas menerima surat penarikan diri Timses dan Saksi Capres Prabowo-Hatta, berkomunikasi dengan para petinggi RI termasuk SBY, Pangdam Jaya, Ketua Bawaslu dan Ketua DKPP. Proses rekapitulasi tetap berjalan dengan tenang dan berjalan sebagaimana biasa dan tak terpengaruh dengan pidato Prabowo yang berapi-api tapi ngawur itu.

Negara bukannya takut dan khawatir, malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Prabowo. SBY malah mengucapkan selamat kepada Jokowi-JK kemarin. SBY menjadi orang pertama yang mendorong KPU tetap melaksanakan tugas. Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun tak terpengaruh dengan move Prabowo. Demikian pula Polri pun tak ambil pusing dengan gaya pamer kekuatan Prabowo. Malah justru pengamanan oleh TNI dan Polri ditingkatkan.

Latar belakang Prabowo nekat untuk menarik diri dari proses Pilpres disebabkan oleh beberapa hal yang membuat Prabowo bertindak di luar kendali kenormalan sebagai seorang negarawan. Rupanya Prabowo terjebak dalam kepentingan anggota Koalisi dan Timses-nya sehingga membuat keputusan blunder.

Pertama, Timses Prabowo kalah strategi menarik SBY ke dalam lingkaran pengaruh Timses Prabowo. Sangat menarik taktik PDIP mendorong SBY untuk condong ke arah Jokowi-JK yang dilakukan oleh elite Timses PDIP. PDIP tahu SBY dibutuhkan pada saat-saat terakhir yakni menyelamatkan negara. Menyelamatkan negara artinya PDIP dan Timses Jokowi-JK yakin SBY akan berpihak pada demokrasi.

Kedua, karakter Prabowo dipahami betul oleh SBY. Sampai hal terkait kampanye saja SBY paham. Kaitan Obor Rakyat yang melibatkan kalangan Istana adalah salah satu bukti karakter Prabowo yang bersifat tegas dan nekat.

Termasuk dalam bagian kepribadiannya, SBY mengamati perang strategi pemenangan pilpres antara Timses Prabowo yang sampai menyewa ahli kampanye hitam Rob Allyn dan Dick Morrris dengan Timses Jokowi yang mengandalkan Denny JA - lulusan Amerika namun paham kultur rakyat Indonesia, sungguh menarik. Juga untuk SBY.

SBY tahu betul karakter Prabowo. Untuk itu mendukung secara lisan dan langsung kepada Prabowo akan berakibat berbeda. Di situlah SBY sangat berhati-hati.

Ketiga, Prabowo bertindak konyol itu juga disebabkan oleh pengaruh Aburizal Bakrie - si lumpur Lapindo - dan Idrus Marham serta Fadli Zon. ARB dan Idrus Marham memiliki kepentingan Prabowo harus menang atau asal bukan Jokowi-JK jadi presiden.

Demikian pula Fadli Zon memiliki pertaruhan pribadi terkait cara kampanye negatif dan bahkan hitam yang salah: yakni serangan terhadap pribadi Jokowi yang justru menimbulkan reaksi Rebound Consciousness yang akhirnya menghentikan trend naik elektabilitas Prahara.

Seharusnya Timses Prabowo-Hatta, seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah dan Timses lainnya menahan diri dan tak perlu melontarkan tentang komunisme, kafir, keturunan Singapura. Sebenarnya dengan hanya satu fokus Boneka saja, Prahara akan menang. Terlalu banyak materi kampanye hitam - hingga menjadi tak fokus - terhadap Jokowi justru membuat Boneka dan Raisopopo terlupakan. Ini kesalahan kampanye Prahara.

Keempat, Prabowo dan Timses serta para pentolan partai Koalisi Merah Putih tidak memahami bahwa orang seperti Yusril Ihza Mahendra lebih membela Negara dan Bangsa dibandingkan membela kekonyolan Prabowo dan para anggota koalisi. Yusril pun mengeluarkan pernyataan bahwa menarik diri dari proses Pilpres, hasil rekapitulasi dan keabsahan keputusan KPU tidak terpengaruh sama sekali.

Lalu apa yang melatarbelakangi Prabowo nekat?
Prabowo diberi pengarahan yang intinya menunjukkan bahwa Prabowo adalah orang kuat. Bahwa Prabowo memiliki pendukung. Dan Prabowo bisa menjadi tokoh pergerakan dan perlawanan dan demokrasi. Arahan itu wujudnya misalnya: MPR akan dikuasai oleh Koalisi Merah Putih. Jokowi-JK bisa saja dengan alasan tidak Pilpres tidak konstitusional dan melanggar UUD ‘45 - dengan harapan negara dalam keadaan darurat dan tegang - MPR tidak merestui dan tidak melantik Jokowi-JK.

Selain itu, para pentolan partai koalisi diyakini akan menjegal Jokowi-JK di parlemen. Dibayangkan Koalisi Merah Putih akan solid. Hingga Jokowi-JK akan gampang diturunkan oleh MPR dan DPR yang dikuasai oleh Prabowo.

Para pentolan partai koalisi pun membayangkan bahwa kekuatan di Parlemen dan MPR akan menarik para petinggi terutama Presiden, Panglima TNI dan Kapolri serta pimpinan lembaga negara termasuk MK, MPR untuk bersikap ‘takut dan hormat’ kepada Prabowo.

Perhitungan inilah yang menyebabkan mereka mendorong Prabowo untuk berbuat nekat. Hasilnya sama-sama tahu. Prabowo menjadi bahan tertawaan dan reputasi kenegarawanannya tercoreng.

Kini, Prabowo akan maju kembali ke MK. Tindakan maju kembali mengadu ke Mahkamah Konstitusi setelah menarik diri hanya akan menjadi tuntutan yang sia-sia. Kenapa?

Pertama, SBY mendukung Jokowi-JK. TNI dan Polri tetap netral dan tak terpengaruh oleh move Prabowo. Dunia sudah mengetahui dan mengucapkan selamat kepada Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Jokowi-JK.

Kedua, ternyata Prabowo tak memiliki kekuatan apapun di kalangan sipil dan militer karena dia hanya seorang sipil warga negara biasa. Dia bukan tentara. Prabowo hanya pentolan partai.

Ketiga, Prabowo akan ditinggalkan oleh Golkar, Demokrat, PPP, PAN dan hanya akan tersisa PKS dan Gerindra yang beroposisi. Kecenderungan ini bisa dipastikan karena kekuatan Jokowi-JK ada pada rakyat. Hal ini persis seperti di DKI di mana Jokowi-Ahok pun tetap bisa bekerja di tengah tekanan mayoritas partai yang mengeroyoknya.

Dengan kondisi di atas, maka keputusan Mahkamah Konstitusi pun hanya akan menolak tuntutan Prabowo. Dan sejak saat itu Prabowo akan sendirian dan bahkan akan ditinggalkan oleh ARB yang jelas akan didongkel dan digantikan oleh Agung Laksono. Jadi janji-janji ARB dan Idrus Marham yang ikut nekat mendorong Prabowo untuk berpidato konyol kemarin sebenarnya bukan untuk Prabowo, namun untuk kepentingan mereka.

Yang pasti, publik juga sekarang tahu karakter Prabowo, ARB, Suryadharma Ali. Selain itu pujian juga patut dialamatkan kepada Presiden SBY, Jenderal Moeldoko dan Jenderal Polisi Sutarman yang bertindak tepat tak menggubris langkah Prabowo.

Dan, pidato Prabowo kemarin adalah menjadi bukti testing the water pamer kekuatan yang gagal total. Kenapa? Presiden SBY, Jenderal Moeldoko dan Jenderal Polisi Sutarman yang bertindak tepat tak menggubris langkah Prabowo.



 

ARTIKEL TERKAIT :

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar