Namun, tidak bagi rumah Los Feliz di jalan 2475 Glendower
Place. Hal itu disebabkan karena ia mempunyai sejarah berdarah yang kelam dan
banyak tetangga serta pengunjung merasa ngeri, membayangkan apa yang telah
terjadi di dalam rumah itu.
Semua berawal pada 6 Desember 1959. Sebuah kisah tentang
orang terakhir yang menghuni bangunan mewah itu.
Mengapa pemilik selanjutnya tak pernah menempati rumah itu.
Mengapa para tetangga merasa dihantui bangunan itu.
Simak kisahnya, seperti Liputan6 lansir dari News.com.au,
Senin (21/12/2015)
1. Harold Parelson berdiri di sebelah ranjang tempat ia dan istrinya Lilian
berbagi. Lilian terlelap di kasur itu sehingga ia tak mungkin melihat Harold
membawa martil di tangannya.
Semenit kemudian, nyawanya meregang di tangan orang terkasih. Koroner
mengatakan ia meninggal bersimbah darah. Harold memukul remuk kepala belahan
jiwanya dengan martil itu.
Lalu, ia menuju kamar anak perempuannya, Judye dan melakukan hal yang sama
seperti kepada Lilian.
Namun, pukulannya tidak mematikan. Perempuan malang itu terbangun, dan
menjerit. Tetangga mendeskripsikan 'seperti suara hewan liar berteriak.'
Bagaimanapun, Judye berhasil selamat. Ia berlari ke segala arah di rumah itu
dengan darah segar mengucur dari kepalanya. Ia berhasil kabur dan berlari ke
salah satu rumah tetangganya memohon bantuan.
Suara jeritan Judye terdengar oleh kedua adiknya, Debbie dan Joel yang masih
berusia 11 dan 13 tahun.
"Kembali tidur, itu hanya mimpi buruk," kata Harold kepada dua
buah hatinya yang terbangun.

Ia lalu menenggak segengam pil dan meminum segelas minuman keras. Ia
ditemukan tak sadar saat polisi datang dan dinyatakan tewas saat paramedis
datang.
Setelah kejadian mengerikan itu, penyidik menemukan bahwa Harold Parelson
mengalami kesulitan keuangan. Ia pernah melakukan tindakan bunuh diri, tapi
sang istri berhasil mencegahnya.
Namun, tak ada yang menyangka, ia mampu melakukan tindakan luar biasa keji.
2. Bocah-bocah yatim piatu itu lalu diasuh oleh keluarga Lilian. Rumah saksi
bisu kekejian sang ayah dijual setahun setelah insiden lewat sebuah lelang yang
dimenangkan oleh sepasang suami istri. Namun keduanya tak pernah muncul. Rumah
itu selalu kosong.
Bangunan itu seakan membeku dalam waktu.
Di dalam bangunan, furnitur ala retro masih berada di tempatnya. Seprei
menutupi seluruh mebel. Bahkan TV hitam putih masih berdiri di tengah ruang
keluarga.
Mirip kisah horor, kendati tak ada setitik darahpun tersisa. Di ruang
keluarga, misteri menyelimuti, bagaimana beberapa barang masih bisa berada di
situ.

Menurut Jeff Maysh seorang cenayang, beberapa barang itu bukan milik
keluarga Perelson. Seperti kotak makan yang bertanggal 1950 an, dan majalah
tahun 1960an. Ia mengatakan mungkin ada keluarga pernah tinggal di situ dan tak
pernah diberi tahu tentang sejarah berdarah rumah tersebut.
Jika benar, bisa dikatakan memang ada keluarga yang pernah tinggal di situ.
Hal itu terlihat dari... mengapa mereka tiba-tiba meninggalkan rumah itu tanpa
membenahi barang-barangnya. Dan kemungkinan besar, keluarga yang tinggal di
situ adalah si pemenang lelang.
Bahkan, sebuah pohon natal di pojok ruangan dan kotak hadiah masih
terbungkus rapi. Apapun yang membuat keluarga itu pergi, yang pasti mereka
meninggalkan bangunan itu dengan terburu-buru.
Menurut keterangan tetangga, pasangan itu lalu mewariskan rumah mewah yang
berada di pojokan itu. Namun, sang anak tidak pernah tinggal di situ dan
mengatakan bahwa bangunan itu dijadikan gudang.
Kendati demikian, dari luar, bangunan itu cukup terpelihara, meski rumput
kering dan tak beraturan.
3. Salah seorang tetangga, Sheree Waterson pernah iseng memasuki rumah itu.
Namun, ia digigit oleh seekor laba-laba hitam saat ingin masuk ke dalam rumah.
Akibatnya, alarm bangunan itu berbunyi.
Ia segera kabur dari rumah itu, tanpa mengetahui siapa yang mematikan alarm
itu.
Sejak saat itu, alarm di rumahnya sering berbunyi, seakan-akan ada arwah
balas dendam.

"Dua malam kemudian, alarm pintu belakangku berbunyi terus-menerus.
Namun tak ada siapapun, aku seperti diikuti oleh arwah yang balas dendam,"
kata Sheree.
Tetangga lain memilih untuk tidak berkomentar. Jude Margolis mengatakan
bahwa rumah itu adalah saksi bisu kejahatan.
"Aku tidak peduli, yang pasti, rumah itu terkunci dan tertutup
selamanya. Sudah tak ada yang perlu aku katakan lagi," ujarnya. Jude telah
pindah dari lingkungan itu dan mengatakan betap peristiwa itu kerap
menghantuinya.
sumber:http://global.liputan6.com/read/2394529/kisah-horor-rumah-mewah-saksi-bisu-pembunuhan-keji?p=3