"Setiap tahun kita membutuhkan Rp 6 triliun, jadi
selama 5 tahun Rp 30 triliun," ujar Direktur Jenderal Bina Marga
Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) Hediyanto W Husaini saat
peninjauan proyek Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Selasa
(1/3/2016).
Untuk membangun Trans Papua, kata Hediyanto, pemerintah
mendatangkan pekerja profesional dari Jakarta. Sementara pekerja yang tidak
memeiliki keterampilan memadai (non-skilled labour) sebagian besar berasal dari
Papua.
Proyek Trans Papua yang berada di atas gunung bahkan murni
diisi oleh pekerja domestik. Hediyanto menuturkan, membangun jalan di Papua
memiliki banyak tantangan.
Akses ke daerah-daerah di Papua juga sangat terbatas karena
sulitnya medan yang ditempuh. Untuk mengirim alat berat saja, banyak upaya yang
harus dilakukan, antara lain membongkarnya terlebih dahulu.
Setelah dibongkar, alat ini baru bisa didistribusikan ke
lokasi proyek. Sesampainya di lokasi, alat berat ini harus dirakit kembali
sebelum bisa digunakan.
Meski demikian, Hediyanto menganggap, hal ini harus tetap
dijalankan mengingat kebutuhan masyarakat Papua yang mendesak akan pembangunan
infrastruktur jalan.
Diharapkan, dengan Trans Papua masyarakat bisa berkomunikasi
antar-kabupaten, menggenjot pertumbuhan ekonomi dan aksesibilitas. Selain itu,
yang terpenting, Trans Papua diharapkan bisa menurunkan biaya
kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat.
"Sekarang, semen harganya Rp 1 juta per zak, nanti bisa
turun jadi Rp 100.000 per zak," jelas Hediyanto.
sumber:http://properti.kompas.com/read/2016/03/03/200000121/Trans.Papua.Terbangun.Harga.Semen.Rp.1.Juta.Jadi.Rp.100.000.Per.Zak?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=kpoprd